Basic Question In Learning Philosophy, What Is Philosophy?
There so many people can not answer these questions, what do you think about philosophy? or, what is philosophy? some people say, "it's too abstract" or maybe they say "everyman have a different definition about philosophy". Philosophers
Jumat, 29 Juli 2011
Kamis, 28 Juli 2011
ADJECTIVE PHRASES
What is Adjective Phrases?
Adjective phrases is a combination of words that gives additional information about noun. in syntax,it refers to a phrases built upon an adjective, which functions as the head of that phrases. in a very simple word, Adjective phrases is a combination of noun and
Adjective phrases is a combination of words that gives additional information about noun. in syntax,it refers to a phrases built upon an adjective, which functions as the head of that phrases. in a very simple word, Adjective phrases is a combination of noun and
ADJECTIVE PHRASES
What is Adjective Phrases?
Adjective phrases is a combination of words that gives additional information about noun. in syntax,it refers to a phrases built upon an adjective, which functions as the head of that phrases. in a very simple word, Adjective phrases is a combination of noun and
Adjective phrases is a combination of words that gives additional information about noun. in syntax,it refers to a phrases built upon an adjective, which functions as the head of that phrases. in a very simple word, Adjective phrases is a combination of noun and
Kamis, 14 Juli 2011
How To Master Speed Reading Techniques
How To Master Speed Reading Techniques
speed reading is the process of time well control the movement of the motor. If you understand the principles of the human visual system, which can increase speed reading and inefficiencies while improving data assimilation and understanding.
what do you
speed reading is the process of time well control the movement of the motor. If you understand the principles of the human visual system, which can increase speed reading and inefficiencies while improving data assimilation and understanding.
what do you
Minggu, 13 Februari 2011
hanya gumaman
Mengapa hari-hari ini terasa semakin berat? Hatiku terus bertanya tiada henti akhir-akhir ini. Semakin banyak hatiku bertanya rasanya semakin banyak pula aku kehilangan semangat hidup. Apakah ini pertanda bahwa aku adalah orang yang hanya dapat memulai sebuah perjalanan kemudian tersesat dan hanya pasrah dalam kesesatan? Oh tidak! Sungguh bukanlah mauku seperti itu. Aku tak ingin keadaan mengalahkanku. Aku ingin mengubah keadaan yang sulit dalam nyata namun menjadi nyaman dalam kepala. Sejuk bersahaja bersama ide. Hidup berdampingan dengan akal dan nurani walaupun dunia sesungguhnya kadang lebih kejam dari ibu tiri.
Yah, hidup kadang memang tak memihak pada kaum lemah. namun apakah selamanya aku akan menjadi manusia cengeng yang hanya dapat merengek padahal sebenarnya aku mampu? Tentu tidak. Aku ingin menepis kecengenganku. Bahwa hidup yang berat terkadang membuat aku menangis adalah hal wajar tapi tangisanku bukan berarti aku cengeng.
Aku bangkit sekarang. Aku akan mencari dimana tempatku akan berdiri tegak kukuh dan menjulang melawan angin dalam keberanian. Selamat berjuang, Ihsan!
Senin, 07 Februari 2011
menunggu
Aku duduk di ruangan tengah, duduk sambil menopang dagu. Ayah hilir mudik dihadapanku. Ingin aku mengajak ayah bicara namun aku tak tahu dari mana aku harus memulai pembicaraan. Walaupun kami tak saling bicara, aku tahu benar apa yang ada dalam pikiran ayah. Harap-harap cemas, hanya itu kata-kata yang cocok untuk menggambarkan situasi yang sedang mengerubungi ayah. Setelah hampir satu jam di ruang tengah, kami tak melakukan apa-apa kecuali hanya diam dan bergelisah ria.
Kali ini ayah mencoba melangkah masuk kamar namun tubuhnya seakan-akan terpental ketika membuka pintu. Maka ayah pun duduk di sampingku sekarang. Ditatapnya mataku, mencoba tersenyum namun aku tak tega melihat senyum itu, senyum ayah terlalu dipaksakan. Masam jadinya dan aku –terus terang-aku tak suka.
“Ayah dak nyoblos?” tanyaku. Hari ini adalah tanggal 29 mei 1997. Hari dimana pemilihan umum dilansungkan di Negaraku tercinta dan tersayang, Republik Indonesia. Tidak banyak yang aku tahu tentang politik namun yang aku tahu dengan jelas dari percakapan orang-orang dewasa bahwa Soeharto akan memerintah lagi. Mengapa dia akan memerintah lagi? Apakah tak ada manusia lain yang dapat memimpin di republik ini? Tanyaku dalam hati.
“Nanti saja!” jawab ayah singkat. Jawaban singkat itu sudah kupahami. Jawaban singkat itu berarti ayah sedang menunggu sesuatu yang penting. Apakah sesuatu yang penting? Sesaat lagi kalian akan tahu.
Kulihat jam dinding dan dia seolah berbicara. Apa lihat-lihat? Seperti tidak senang saja dia kulihat. Ketidaksenangan mungkin muncul karena dari tadi aku terlalu sering aku memandanginya. Aku melirik dengan cepat ke arah jam dinding, aku berhasil mencuri pandangan dan mencuri informasi dari jam dinding. Jarum pendek antara angka satu dan dua. Jarum panjang tepat pada angka lima. Aku harus bermain dengan anak-anak tetanggaku tepat pada saat jarum panjang di angka enam nanti. Karena aku telah berjanji pada mereka dari kemarin.
“Ayah, aku keluar dulu ya?” Aku permisi keluar pada ayah karena kulihat dari jendela beberapa anak-anak ingusan telah berkejar-kejaran. Sepertinya mereka memang sengaja berkejar-kejaran di depan rumah untuk memancingku agar segera keluar dari kediaman. Teknik busuk mereka bekerja sempurna. Aku tak tahan godaan itu.
Aku dan teman-temanku berlari menuju sungai kecil yang jaraknya sekitar dua ratus meter dari rumah. Musim kemarau tahun ini membuat sungai menjadi area bermain yang sangat ideal bagi kami. Namun sungai tak dapat dijadikan tempat berenang lagi musim kemarau ini, air beriak dan hanya mampu membasahi lutut anak-anak seumuran kami. Belum puas kami bermain-main, hatiku tiba-tiba teringat pada ayah. Aku segera meninggalkan teman-temanku tanpa bicara apa-apa. Berlari menuju rumah.
Terdengar suara bayi menangis dari halaman rumahku. Aku buru-buru masuk kamar. Kulihat ayah sedang azan di telinga bayi itu. Wajah ayah begitu sumringah dan puas atas kelahiran anak laki-laki keduanya. Ibu terbaring lemas bersimbah darah. Paman, bibi dan kakek berdiri mematung memandangi bayi itu yang tidak lain adalah adikku. Aku rasa semua orang dalam kamar ini memiliki perasaan yang sama denganku. Bahagia. Kami telah kedatangan anggota keluarga baru. Itu artinya predikat sebagai anak tunggal akan segera aku tanggalkan. Namun itu tak membuat rasa bahagiaku surut walaupun aku harus berbagi harta warisan nantinya dengan dia. Apalah arti harta warisan yang harus pecah dua bila dibandingkan dengan kebahagiaan memiliki seorang adik laki-laki. Walaupun aku harus berbagi kasih sayang ayah ibu, aku tak sedih sedikitpun. Apalah artinya kebahagiaan ayah ibu yang harus dibagi dua bila dibandingkan dengan kebahagiaan saling berbagi nantinya dengan adikku. Bukankah dunia ini akan terasa bahagia jika kita saling berbagi dan melengkapi?
Dukun beranak yang membantu persalinan ibu berbisik di telinga bibiku. Setelah bisikan itu, bibi meminta kami semua untuk keluar dari kamar. Tinggallah dukun beranak, ibu dan ayahku dalam kamar. Aku cemas, dan bertanya dalam hati, mengapa kami tak boleh berada dalam kamar bersama adik? Tapi aku tak bertanya pada orang-orang yang harus berada diluar kamar. Karena aku tahu betul jawabannya jika aku bertanya demikian. “ini urusan orang dewasa” atau “anak kecil belum boleh tahu”.
Dua jam paman, bibi dan aku duduk di ruang tengah. Semua memandangi jam dinding. Kali ini jam dinding tak berani ketus padaku karena aku sedang didampingi oleh orang yang lebih tua dariku. Wajah jam dinding itu kecut dan takut. Nampaknya jam dinding ini tak berani macam-macam dengan orang yang lebih besar dariku, dia hanya berani pada anak kecil tak berdaya dan tak punya kuasa. Kelakuan jam dinding ini mirip dengan kelakuan orang-orang berpangkat di Negara Indonesia tercinta, mereka hanya berani garang menegakkan hukum pada orang-orang kecil tak berdaya dan tak berkuasa sementara pada orang-orang besar dan berpangkat mereka menutup telinga dan pura-pura tidak tahu.
Ayah keluar dari kamar, matanya merah, wajahnya pahit seperti menahan kekecewaan. Bibi buru-buru masuk kamar disusul paman dan kakek. Aku membuntut di belakang kakek. Kulihat wajah ibu, matanya mengalirkan air kesedihan. Kesedihan yang tumpah ruah dari dalam lubuk hatinya. Tak tahan aku melihat ibu menangis aku pun ikut menangis. Aku peluk tubuh ibu yang terguncang sesegukan menahan tangis itu. Tak ada yang membuatku sedih selama ini kecuali melihat ibu menangis. Rasanya langit seakan runtuh ketika ibu bersedih.
Kakek mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un”, sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah segala sesuatu akan kembali. Sesuatu di dunia ini begitu cepat berubah dan berputar. Belum genap setengah hari aku menunggu kelahiran adik dalam keadaan harap-harap cemas. Kemudian bahagia muncul tanpa aba-aba menghampiri rumah kami bersamaan dengan kelahirannya. Namun lihatlah sekarang, bahagia itu pergi secepat kedatangannya. Adikku pergi untuk selamanya, takkan kembali lagi. Dia hanya dizinkan hidup selama dua jam. Dia pergi sebelum diberikan kesempatan untuk berbagi denganku. Padahal aku begitu rela menerima kehadirannya. Aku ikhlas mendampingi dia sebagai kakak. Namun dalam hidup ini, keikhlsan menerima saja tidak cukup tanpa ada keikhlsan memberi. Keikhlasan menerima kedatangan tidak berarti apa-apa tanpa keikhlasan menerima kepergian.
Sabtu, 05 Februari 2011
rengekan itu
Ayam-ayam hilir mudik di halaman rumah. Mengais sampah yang masih tertumpuk. Zainab yang baru saja masuk ke dalam rumah buru-buru keluar lagi sambil menggendong anak laki-laki satu-satunya untuk mengusir kawanan ayam yang nakal itu agar tidak lagi mengaisi tumpukan sampah. Karena tumpukan sampah itu adalah hasil sapuan Zainab yang belum selesai. Pagi ini dia menyapu sebagian halaman rumahnya yang mulai berantakan karena sudah seminggu dia acuhkan.
Dengan menggunakan sapu lidi, Zainab kembali mencoba untuk merapikan halaman rumahnya namun belum lagi selesai pekerjaan itu, anaknya kembali merengek meminta digendong. Anak tunggal Zainab yang baru berumur satu tahun dua bulan itu terserang demam mendadak dari tadi malam. Badannya panas tiba-tiba sejak magrib. Merengek kapan saja ia berhasrat untuk merengek, tak kenal waktu dan tempat. Zainab membawanya turun dari rumah panggung, mencoba untuk menenangkannya. Anak itu mereda sejenak namun tak lama kemudian merengek lagi. Zainab hampir putus asa. Sendi-sendinya seolah meregang menahan kekesalan. Kesal pada rengekan anaknya yang tak kunjung usai. Ajaibnya, disaat Zainab telah memasuki fase kekesalan seperti ini anaknya tiba-tiba saja diam seolah mengerti akan penderitaan ibunya. Rengekan anak Zainab membuat hatinya resah. Walaupun terserang demam, tak biasanya anak itu merengek seperti ini. Anak itu seperti menyimpan firasat yang kurang baik dalam rengekannya.
Zainab tersenyum saat melihat seorang lelaki yang berjalan menuju rumahnya. Besar dan tinggi badan lelaki itu. Dia adalah suami Zainab. Jamal namanya. Begitu Jamal mendekati Zainab, sang anak lansung memutar badan dan mengulurkan tangan pada ayahnya. Berteriak girang dan melonjak-lonjak sambil menerpa Jamal. Jamal menyambut anaknya lalu mengangkat anak itu tinggi-tinggi ke udara. Semakin menjadilah tawa girang sang anak.
“Banyak nian ikan yang ayah dapatkan hari ini. Ikan Serapil dan Sepat. Mau dimasak apa, Yah? Tempoyak?” Tanya Zainab pada suaminya.
Dengan sedikit anggukan Jamal, Zainab tak membuang tempo lagi. Dia meniti tangga dengan cepat agar dapat dengan segera membersihkan ikan-ikan itu di dapur untuk kemudian meramunya menjadi hidangan makan siang yang lezat. Tempoyak. Menu favorit suaminya.
Keluarga kecil ini tengah menyantap hidangan makan siang. Zainab memangku anaknya. Zainab memperhatikan air muka suaminya. Seperti ada yang hilang dari suaminya. Zainab memberanikan diri untuk bertanya.
“Apa gerangan hal yang terjadi pada ayah? Ayah Nampak tak bernafsu untuk mengunyah nasi dan lauk. Apa ada yang kurang dari masakan ibu?” Tanya Zainab pelan. Ditatapnya wajah Jamal dalam-dalam.
Jamal mencoba menjalin kata-kata dari mulutnya. Berat sekali jalinan itu namun akhirnya keluar juga satu persatu. Pelan namun pasti.
“Nab, nampaknya aku harus pergi merantau. Aku tak sanggup bekerja seperti orang kampung ini, aku tak pandai berdagang. Menjadi nelayan hanya akan menimbulkan gunjingan dari orang-orang.”
Zainab bagai mengunyah batu mendengar kata-kata dari Jamal. Pada kenyataannya, menjadi nelayan di kampung Zainab adalah lambang sebuah kestatisan, ikon kesuraman masa depan karena ikan-ikan dapat dengan mudah ditangkap bahkan oleh tangan anak-anak berumur tujuh tahunan sekalipun. Tuhan sepertinya telah memberkati sungai di kampung Zainab dengan ikan yang melimpah. Mungkin karena limpahan nikmat Tuhan inilah orang-orang kampung lebih memilih untuk berdagang daripada menjadi nelayan. Saking melimpahnya nikmat itu orang-orang kampung tak perlu menghabiskan waktu lama di sungai untuk menangkap ikan, tinggal memasang perangkap ikan bernama tembila lalu pulang ke rumah dan kembali lagi ke sungai untuk mengangkatnya dan ikanpun didapat dengan mudah.
“Kemana ayah akan merantau? Lalu bagaimana nasib Kulup, anak kita? Tak ada sosok yang dapat dia panggil sebagai ayah.”
Zainab berhenti makan dan membasuh tangannya. Dia menyadari kekurangan suaminya yang tak mahir dalam urusan jual-beli. Suaminya tak pandai berdagang. Namun hatinya masih berat jika harus melepaskan suaminya pergi merantau. Zainab tak rela Kulup dibesarkan tanpa mengenal sosok sang ayah. Zainab mencoba untuk menawarkan pilihan lain.
“Mengapa ayah tak mencoba untuk membuat kebun sayur, menanam ketimun, kacang panjang atau jagung seperti Wak Jamain?“
Bibir Jamal tertahan untuk berujar. Kata-katanya berantakan di kerongkongan. Bukan istrinya yang membuat dia berat meninggalkan kampung namun Kulup-lah yang menjadi alasan dia untuk tetap tinggal.
***
Rengekan Kulup membangunkan Zainab. Rengekan itu memecah kesunyian kampung. Memecah redupnya cahaya lampu minyak tanah yang diandalkan penduduk kampung untuk menjadi penerang di malam hari. Zainab lagi-lagi harus meladeni rengekan anaknya, pegal hatinya. Dilihatnya suaminya tidak ada di kamar lalu Zainab keluar menuju ruangan tengah, suaminya juga tidak ada. Sambil menggendong Kulup yang masih merengek, Zainab menuju beranda rumah. Dilihatnya Jamal sedang menghisap lintingan tembakau. Jamal membuang lintingan yang hampir menemui ajalnya itu saat melihat istrinya menggendong buah hati mereka. Kulup serta merta menghentikan rengekannya saat Jamal mencoba mengambilnya dari gendongan Zainab. Anak itu seakan menemukan ketenangan dalam pelukan ayahnya. Mungkin karena tahu rencana ayahnya yang akan pergi meninggalkannya untuk merantau, Kulup seringkali merengek akhir-akhir ini. Seakan dia tidak meridhai rencana ayahnya itu. Ikatan batin yang kuat antara anak dan ayahnya itu terbentang menampung semua firasat Kulup.
“Apakah niat ayah untuk merantau itu sudah bulat? Apa ayah tidak kasian dengan Kulup?” Zainab kembali mempertanyakan niat Jamal untuk merantau.
“Aku merantau untuk mencari kehidupan yang lebih baik untuk kita bertiga, Nab. Aku akan mengirimkan nafkah untuk kalian secara rutin dari negeri perantauanku nanti.” Zainab hanya terdiam pahit mendengar pernyataan Jamal itu. Nampaknya niat Jamal untuk merantau tak dapat lagi dia cegah.
***
Pagi ini mentari bersinar. Cerah sekali. Pagi yang indah untuk memulai kehidupan di kampung kecil ini. Namun sinar mentari bagai badai saja bagi Zainab. Hari yang cerah hanya akan mempercepat keberangkatan Jamal untuk merantau. Hati Zainab tak rela dengan cerahnya hari, dia lebih rela badai saja yang melanda kampung ini agar suaminya mengurungkan niatnya. Namun mentari berkata lain.
Jamal telah siap dengan kopernya. Hatinya berat untuk pergi ketika memandang wajah kecil Kulup, anak itu belum tahu apa-apa. Jamal melangkah, Kulup meraung tak rela ditinggalkan. Tangan kecil Kulup meminta dirangkul oleh ayahnya. Jamal memeluk anaknya. Raungan itu mereda seketika. Saat Jamal menganggap anaknya sudah siap berpisah dengan dirinya, Jamal melangkah menuruni tangga rumahnya. Jamal berjalan setengah berlari, Kulup kembali meraung. Jamal tak mengacuhkan, dia terus melangkah. Pipi Zainab basah oleh air mata menyaksikan langkah Jamal dan mendengar raungan Kulup. Zainab memeluk Kulup dan Kulup terus saja meraung. Dalam jarak yang tak jauh dan raungan anaknya masih terdengar sayup-sayup oleh Jamal, hati Jamal seakan pecah mendengar suara anak itu. Air mata Jamal tak terbendung. Dia memutar langkah dan berlari menuju rumahnya. Menuju anak dan istrinya. Didekapnya Zainab dan Kulup. Air mata mereka membanjiri rumah, halaman bahkan kampung ini.
Kulup tertidur, energinya terkuras karena terus meraung pagi ini. Jamal menuruni tangga, diam dan mengendap. Dia takut langkah kakinya dapat membangunkan anaknya. Langkah Jamal berat, melihat istrinya melambaikan tangan untuknya. Namun setelah itu dia tak lagi melihat kebelakang. Dia membiarkan takdir yang menuntun langkah kakinya yang berat itu. Sepanjang jalan menuju perantauan mulutnya tak berhenti berdoa dan mengucapkan salam perpisahan pada tanah kelahiran istrinya itu.
***
Badai yang Zainab harapkan turun untuk menghalangi langkah Jamal kini berbalik menyerang hati dan pikirannya. Serangan badai itu berupa rasa sepi, rindu dan ketakutan. Zainab duduk termenung di kamar, tangannya mengelus ubun-ubun Kulup. Hampa saja rasanya elusan itu. Lalu Zainab keluar dari kamar dan dia hanya menyaksikan bayangan-bayangan Jamal dalam pikirannya, berkelebat. Kemudian pecah berhamburan di lantai rumah.
***
Tempoyak adalah daging durian yang dipermentasikan selama beberapa hari dalam wadah tertutup. Hasil permentasi itu biasanya digulai dengan ikan.
Serapil adalah Salah satu jenis ikan yang banyak hidup di anak Sungai Batang Hari, rawa dan danau di Jambi, bentuknya sedikit mernyerupai ikan gurami. Dalam ukuran yang melebihi tiga jari orang dewasa. Ikan ini biasa disebut Tebakang
Sepat adalah Salah satu jenis ikan yang hidup satu habitat dengan ikan serapil
Tembila, Salah satu jenis perangkap ikan
Kulup adalah Panggilan untuk anak laki-laki dalam Kebudayaan Jambi
Wak adalah Panggilan untuk saudara laki-laki maupun perempuan yang lebih tua dari ayah dan ibu. Atau dapat juga sapaan untuk semua orang yang kita anggap lebih tua dari ayah dan ibu kita
Langganan:
Postingan (Atom)